Sekjen PBB Desak Dunia Internasional untuk Usut Kejahatan terhadap Jurnalis

- 3 November 2021, 08:00 WIB
Sekjen PBB mendesak negara-negara anggotanya dan dunia internasional untuk segera mengusut dan mengadili kejahatan terhadap jurnalis.
Sekjen PBB mendesak negara-negara anggotanya dan dunia internasional untuk segera mengusut dan mengadili kejahatan terhadap jurnalis. /Twitter @UNESCO/Bahare Khodabande

MIKROFON.ID - Sekretaris Jendral Persatuan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB), António Guterres, mendesak anggota PBB dan masyarakat internasional untuk segera mengusut dan mengadili kejahatan terhadap jurnalis dan pekerja media.

Pernyataannya ini disampaikan pada peringatan Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas (Nir-hukuman) atas Kejahatan terhadap Jurnalis.

"Saya mendesak negara-negara anggota PBB dan masyarakat internasional untuk melakukan solidaritas bersama para jurnalis di seluruh dunia hari ini dan seterusnya," ungkapnya dalam pernyataan tertulis pada 2 November 2021.

Peringatan ini menurutnya, "Untuk menunjukkan kehendak politik (political will) yang dibutuhkan untuk mengusut dan mengadili kejahatan terhadap jurnalis dan pekerja media dengan seluruh perangkat hukum yang tersedia."

Sekjen PBB juga memandang bahwa kejahatan terhadap para jurnalis berdampak pada seluruh masyarakat, karena halangan terhadap pekerjaan mereka tersebut menghambat masyarakat untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai.

"Pandemi Covid-19, dan bayang-bayang misinformasi seputar pandemi, telah menunjukkan bahwa akses terhadap fakta dan sains benar-benar masalah hidup dan mati dalam pengertian yang sesungguhnya," paparnya.

António Guterres menambahkan, "Saat akses terhadap informasi terancam, hal ini mengirimkan pesan yang tidak utuh dan merusak demokrasi dan supremasi hukum."

Impunitas bagi para pelaku kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia

Sebelumnya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat dalam setahun terakhir sedikitnya ada 90 kasus kekerasan yang menimpa jurnalis sejak Mei 2020-2021.

"Jumlah ini hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya." ungkap AJI dalam keterangan tertulis pada akun Twitter-nya.

Menurut catatan AJI, sebagian besar pelaku kekerasan tersebut adalah aparat kepolisian. Di samping itu, para wartawan dan media independen di Indonesia juga kini harus menghadapi hambatan yang semakin kompleks.

Halaman:

Editor: I Haris


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X