Armenia-Azerbaijan Umumkan Perjanjian Damai Baru

- 18 Oktober 2020, 08:10 WIB
Ilutrasi-Armenia-Azerbaijan Umumkan Perjanjian Damai Baru /Geralt/Pixabay
MIKROFON.ID - Armenia dan Azerbaijan telah mengumumkan upaya untuk melakukan gencatan senjata atas konflik mereka di Nagorno-Karabakh pada tengah malam waktu setempat. 
 
Disitat dari The Guardian, upaya damai tersebut hadir setelah gencatan senjata yang disponsori Rusia seminggu sebelumnya langsung dilanggar segera setelah kesepakatan tercapai. Azerbaijan menuduh Armenia telah menembakkan misil ke Kota Ganja dan menewaskan 13 orang serta melukai 50 orang lainnya. 
 
Perjanjian damai baru diumumkan oleh kedua menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan menyusul telefon Menlu Rusia Sergey Lavrov dengan keduanya. Lavrov mendorong agar kedua negara tersebut tunduk pada perjanjian yang telah dicapai di Moskow. 
 
 
Nagorno-Karabakh sendiri berada di wilayah Azerbaijan, namun sudah berada dalam kendali etnis Armenia yang didukung Armenia sejak berakhirnya perang pada tahun 1994. Pertempuran yang pecah pada 27 September kemarin yang melibatkan berbagai artileri berat, roket dan drone, telah menewaskan ratusan orang di wilayah Kaukasus selatan tersebut. 
 
Sementara, Presiden Prancis Emmanuel Macrob menyambut baik perjanjian damai tersebut. Ia pun menekankan kedua belah pihak untuk benar-benar mematuhinya. 
 
"Gencatan senjata ini harus benar-benar diterapkan oleh kedua pihak tanpa syarat apa pun," kata pernyataan resmi pemerintah Prancis. "Prancis akan sangat memperhatikan jalannya perjanjian damai ini sehingga kontak senjata bisa dihentikan sepenuhnya dan perundingan bisa segera dilaksanakan."
 
 
Kementerian Pertahanan Armenia menyanggah serangan misil yang menghantam Kota Ganja dilakukan pihaknya. Sedangkan pihak yang berkuasa di Nagorno-Karabakh sempat mengumumkan daftar yang diduga fasilitas militer di Ganja, walaupun mereka tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. 
 
Menurut pihak berwenang Azerbaijan misil Scud buatan Sovyet menghancurkan dan merusak sekitar 20 rumah di Ganja, dan pekerja menghabiskan waktu berjam-jam mencari korban jiwa dan korban luka di antara puing-puing. 
 
Misil Scud merupakan senjata buatan tahun 60-an yang mampu membawa banyak bahan peledak, namun memiliki akurasi yang sangat buruk. 
 
 
Dalam siaran televisi nasionalnya, Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev mengecam serangan misil tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan perang. Ia pun memperingatkan pemimpin Armenia terhadap konsekuensi yang akan mereka terima atas serangan tersebut. 
 
Sementara baik Azerbaijan maupun Armenia tetap menyanggah menjadikan warga sipil sebagai sasaran, walaupun wilayah pemukiman yang terkena serangan militer semakin luas sejak tiga minggu terakhir. 
 
Pihak Azerbaijan menyatakan pada Sabtu kemarin bahwa sudah 60 warga sipil yang tewas dan 270 lainnya terluka sejak 27 September. Sedangkan pihak yang berkuasa di Nagorno-Karabakh menyebutkan 600 tentara dan 30 warga sipilnya tewas dalam pertempuran selama 3 minggu terakhir. 
 
 

Azerbaijan bersikeras pihaknya memiliki hak untuk menguasai tanah Nagorno-Karabakh dengan paksa setelah grup mediasi internasional yang disebut Minsk (terdiri dari Rusia, AS, dan Prancis) gagal mencapai kesepakatan setelah tiga dekade. Azerbaijan secara aktif mendorong sekutunya Turki untuk berperan dalam perjanjian damai ke depannya. 

Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar mengucapkan selamat kepada Azerbaijan atas keberhasilannya "membebaskan Fizuli dari okupasi" dan menjatuhkan jet tempur Armenia

Militer Azerbaijan mengumumkan pada Sabtu bahwa pihaknya berhasil menjatuhkan jet Su-25 Armenia, sebuah klaim yang segera disanggah Kementerian Pertahanan Armenia

Baca Juga: Mau Jadi Sarjana Ninja? Kuliah Aja di Universitas Ini

Sebaliknya, militer Armenia menyatakan mereka telah menjatuhkan tiga dron Azerbaijan di atas wilayah Armenia pada Sabtu kemarin. Pernyataan itu disanggah Azerbaijan

Sistem drone dan roket yang disuplai Turki membuat kekuatan militer Azerbaijan lebih maju dibandingkan dengan Armenia, sehingga membuatnya mampu mengungguli militer Armenia yang kebanyakan bertumpu pada senjata usang buatan Sovyet.***

Editor: R. Rosliany

Sumber: The Guardian


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X