Bung Tomo, Pejuang yang Merasakan Penjara Setelah Merdeka

- 6 November 2021, 21:44 WIB
Bung Tomo (1920-1981)
Bung Tomo (1920-1981) /Alex Mendur/Domain Publik Wikipedia

MIKROFON.ID - Siapa tak kenal Sutomo, si Bung yang sosok ikoniknya selalu tampil menghiasi tema Hari Pahlawan setiap tahunnya.

Sorot matanya yang tajam dan acungan jari telunjuk yang tegak saat berpidato dengan latar payung bergaris melekat di ingatan kita.

Dengan pidatonya itu, Bung Tomo, demikian dia lebih banyak dikenal, membakar semangat juang para pemuda Surabaya untuk mempertahankan kota hingga titik darah penghabisan.

Api semangat juangnya tak pernah mati, mungkin ini juga yang membuat Bung Tomo harus merasakan dinginnya penjara di usia senja, justru setelah Indonesia merdeka.

William H. Frederick, sejarawan Ohio University, mencatat peran sentral Bung Tomo di momen yang menurutnya sangat menentukan dalam Revolusi Indonesia itu.

"Ketika Surabaya digempur habis-habisan oleh Inggris. Dia membangkitkan ribuan orang Indonesia untuk beraksi dengan gaya bicara emosional yang khas dari siaran radionya, dibuka dengan seruan "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"

Meski akhirnya berhasil dipukul mundur, tapi keberanian dan kegigihan rakyat dalam mempertahankan Surabaya tetap dikenang hingga kini, sebagai Hari Pahlawan.

Terlahir pada 3 Oktober 1920, di Kampung Blauran SurabayaBung Tomo tidak sempat menyelesaikan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

MULO merupakan sekolah menengah pertama yang disediakan pemerintah kolonial Belanda khusus bagi anak-anak pegawai pemerintah dan kelas menengah pribumi.

Halaman:

Editor: I Haris


Tags

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X